Sabtu, 30 Mei 2009

PANDANGAN ISLAM TERHADAP SISTEM KEMASYARAKATAN

1. Al Hujarat : 11 – 13
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
13. Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Note : Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

 Janganlah suatu kaum mengolok-ngolok, mengejek, menghina, merendahkan dan seumpamanya, janganlah semua itu terjadi dalam kalangan orang beriman. Boleh jadi mereka (yang diolokkan itu) lebih baik dari mereka. Ini peringatan yang halus dan tepat sekali dari Tuhan. Mengolok-olok, megnejek dan menghina tidaklah layak dilakukan kalau orang merasa dirinya beriman, sebab orang yang beriman, akan selalu menilik kekurangan yang ada pada dirinya. Maka dia akan tahu kekurangan yang ada pada dirinya itu. Hanya orang yang tidak beriman itulah yang lebih banyak melihat kekurangan orang lain, dan tidak ingat akan kekurangannya sendiri. Dan janganlah pula wanita-wanita mengolok-olok kepada wanita yang lain. Karena bukan hanya laki-laki yang dilarang memakai perangai yang buruk, bahkan perempuan pun demikian.
 Nabi bersabda, yang artinya “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan memandang rendah manusia”. (HR. Bukhari).
 Memandang rendah manusia, tidak lain karena merasa dirinya serba lengkap, serba tinggi dan serba cukup padahal setiap manusia harus mengerti bahwa dirinya sendiri terdapat segala macam kekurangan.
 “Dan janganlah kamu memanggil-manggil dengan gelar yang buruk”. Asal-usul larangan ini ialah kebiasaan orang di zaman jahiliyah memberikan gelar dua tiga kepada orang menurut perangannya. Maka dalam ayat ini datang anjuran lagi kepada kaum yang beriman, supaya janganlah menghimbau teman dengan gelar-gelar yang buruk. Kalau bisa tukarlah bahasa itu kepada yang baik, terutama yang lebih menyenangkan hatinya.
 Nabi Bersabda, yang artinya “Tiga macam membawa krisis bagi umatku, memandang kesialan, dengki, dan buruk sangka”.
 Dan kami jadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku, supaya kenal mengenallah kamu. Pada ayat ini bagi umat manusia yang silau matanya karena terpesona oleh urusan kebangsaan dan kesukuan, sehingga mereka lupa bahwa keduanya itu gunanya bukan untuk membanggakan suatu bangsa kepada bangsa lain, suatu suku kepada suku yang lain. Kita di dunia bukan untuk bermusuhan, melainkan buat perkenalan. Dan hidup berbangsa-bangsa, bersuku-suku bisa saja menimbulkan permusuhan dan peperangan, karena telah lupa kepada nilai ketakwaan. Di ujung ayat ini Allah menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui, bahwasanya bukan sedikit kebangsaan menimbulkan “Ashabiyah jahiliah” bangga karena mementingkan kebangsaan sendiri.

2. Surat Ar Ra’ad : 11

11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

 Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada malaikat yang menjaga manusia di malam hari dan siang hari, menjaga dari berbagai bahaya dan kemudharatan. Maka setiap orang ada malaikatnya empat pada siang hari dan malam hari yang datangnya secara bergiliran. Apabila manusia mengetahui bahwa disampingnya ada malaikat-malaikat yang mencatat semua amal perbuatannya, maka patutlah dia menjaga diri dari perbuatan maksiat karena kuatir akan dilihat oleh malaikat-malaikat, sebagainya kuatirnya perbuatan itu dilihat oleh orang yang disegani.
 “Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka”. Dalam arti, Allah menjadikan para malaikat itu melakukan apa yang ditugaskan kepadanya yaitu memelihara manusia, sebagaimana dijelaskan di atas karena Allah telah menetapkan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Yakni kondisi kejiwaan/sisi dalam mereka seperti mengubah kesyukuran itu Allah akan mengubah ni’mat menjadi niqmat (bencana), hidayah menjadi kesesatan, kebahagiaan menjadi kesengsaraan dan seterusnya.
 Ayat di atas, disamping meletakkan tanggung jawab yang besar terhadap manusia, karena darinya dipahami bahwa kehendak Allah atas manusia yang telah Dia tetapkan melalui sunnah-sunnah Nya berkaitan erat dengan kehendak dan sikap manusia. Disamping tanggung jawab itu, ayat ini juga menganugerahkan kepada manusia penghormatan yang demikian besar. Betapa tidak? Bukankah ayat ini mengaskan bahwa perubahan yang dilakukan Allah atas manusia, tidak akan terjadi sebelum manusia terlebih dahulu melangkah. Demikian sikap dan kehendak manusia menjadi “Syarat” yang mendahului perbuatan Allah. Sungguh ini merupakan penghormatan yang luar biasa.

3. Surat Al Anfal : 53

53. (siksaan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang Telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

 Allah memberikan tentang keadilan Nya yang sempurna dalam ketetapan hukum Nya. Dimana Allah tidak akan merubah nikmat yang dikaruniakan kepada seseorang, melainkan karena dosa yang dilakukannya.
 Dalam Firman Nya yang serupa dengan ayat-ayat Allah. Allah binasakan mereka, disebabkan karena dosa-dosa mereka dan Allah cabut kembali nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada mereka, seperti kebun-kebun, mata air, hasil pertanian, simpanan harta benda dan kedudukannya yang mulia, serta nikmat yang sedang mereka rasakan. Dalam hal ini, Allah tidak menzalimi mereka, tetapi justru merekalah orang-orang yang zalim.
 Ayat 53 daripada surat Al Anfal ini yang diturunkan di Madinah, adalah peringatan yang kedua dari Allah sesudah terlebih dahulu diperingatkan pula di Makkah, yang tersebut dalam surat Ar Ra’ad yaitu bahwa Allah tidaklah merubah suatu kaum kalau tidak kaum itu sendiri yang merubahnya. Ayat yang kedua ini dapat menghapus paham yang salah setengah manusia, yang berpaham jubariyah, yang mengatakan bahwa segala sesuatunya adalah takdir semata dari Tuhan, dan kita manusia tidak ada jalan yang baik dan jalan yang buruk. Dan diutus Rasul dan diturunkan kitab, sebagai tuntutan bagi kita di dalam perjuangan hidup. Kita sendiri dapat memilih pertimbangan yang baik dan buruk itu.

4. Surat Al Hajj : 41
41. (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

 Ayat ini menjelaskan lebih jauh sifat-sifat mereka, bila mereka memperoleh kemenangan dan telah berhasil membangun masyarakat. Ayat ini juga menyatakan kemenangan dan kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yakni kami berikan mereka kekuasaan mengelola suatu wilayah dalam keadaan mereka dan berdaulat niscaya mereka yakni masyarakat itu melaksanakan shalat secara sempurna, rukun, syarat dan sunnah-sunnah Nya dan mereka juga menunaikan zakat sesuai kadar waktu yang ditetapkan Allah. Dialah yang memenangkan siapa yang hendak dimenangkan Nya dan Dia pula yang menentukan masa kemenangan dan kekalahan itu.
 Adapun Al Ma’ruf, yang merupakan kesepakatan masyarakat, ini sewajarnya diperntahkan, demikian jgua al Mungkar seharusnya dicegah. Dengan konsep ma’ruf. Al Qur’an membuka pintu yang cukup lebar guna menampung perubahan nilai-nilai akibat perkembangan positif masyarakat.
 Perlu dicatat bahwa konsep ma’ruf, hanya membuka pintu bagi perkembangan positif masyarakat, bukan perkembangan negatifnya.

DAFTAR PUSTAKA

Hamka. Tafsir Al Azhar, PT. Pustaka Ponjimas, (Jakarta, 1983)
Syihab, Quraish. Tafsir Al Misbah, Lentera Hati (Jakarta, 2003)
Ghazali, Muhammad. Tafsir Tematik Dalam Al Qur’an, Perpustakaan Nasional, (Jakarta, 2005)
Muhammad, Abdullah. Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Syafi’i, (Jakarta, 2003)
Depag, Al Qur’an dan Tafsir, PT. Ghana Bakti Maqaf, (Yogyakarta, 1990)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar