Sabtu, 30 Mei 2009

SIFAT-SIFAT DASAR DAKWAH

PENDAHULUAN

 Dalam makalah ini sifat-sifat dasar dakwah tersebut merupakan sebuah pondasi dasar untuk menjadi seorang Pendai bagi orang-orang muslim yang telah mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi, terutama ilmu keislaman dan juga termasuk ilmu umum, serta sudah memiliki kemampuan untuk menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat umum.

SIFAT-SIFAT DASAR DAKWAH
 Secara umum sifat-sifat dalam dakwah itu telah disebutkan dalam Al Qur’an di antara sifat-sifat tersebut, antara lain adalah :
A. Ikhlas
 Seorang Pendai harus ikhlas dalam menyampaikan dakwahnya dengan tidak mengharapkan imbalan semata, karena apabila seorang Pendai tersebut merasa terpaksa atau ingin memperoleh pujian dari orang lain, maka dakwahnya tersebut akan sia-sia bahkan memperoleh kemudharatan bagi dirinya sendiri.

B. Serius
 Dakwah harus dilakukan secara sungguh-sungguh, karena dengan kesungguhan seorang Pendai dalam menyampaikan dakwahnya, maka para pendengar atau mad’u akan memahami dan menerima dengan baik.
Firman Allah dalam (QS. Nuh : 5)

Artinya :
Nuh berkata “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang”…(QS. Nuh : 5).
C. Berhadapan Dengan Tantangan
 Seorang Pendai harus berani berhadapan dengan masyarakat atau kalayak ramai untuk menyampaikan dakwahnya. Dakwah kepada kebaikan akan selalu berhadapan dengan dakwah kebatilan. Firman Allah (QS. Al Mukmin : 41-42)

Artinya : 
 “Hai kaumku, bagaimanakah kamu, Aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru Aku ke neraka?(41). (Kenapa) kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui padahal Aku menyeru kamu (beriman) kepada yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?”(42).

D. Sasaran Adalah Muslim dan Non Muslim
 Dakwah berusaha menyebarkan dan meratakan rahmat Allah bagi seluruh penghuni alam raya. Oleh karena itu, dakwah ditujukan bagi orang-orang yang sudah beragama Islam untuk meningkatkan kualitas imannya maupun untuk orang-orang non Islam untuk menerima Islam sebagai agama kebenaran. Firman Allah dalam surat As Saba’ : 28.
Artinya :
 “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui.” 

 Dakwah tidaklah suatu yang eksklusif ditujukan pada orang-orang muslim, akan tetapi dakwah islam bersifat universal. Di samping bergerak dari faktra bahwa semua manusia dihadapan Allah adalah sama. Universalitas dakwah terletak pada identitas imperatif untuk mengajak makhluk Islam. Tugas ini tidak pernah dimiliki setiap individu. Muslim adalah orang yang telah menekatkan dirinya untuk berjalan mengaktualisasikan dirinya pada dakwah. Sedangkan orang-orang yang bukan Islam masih harus menganggap dakwah sebagai suatu yang tidak benar, karenanya dakwah ditujukan bagi orang-orang muslim untuk mengarahkan ke jalan aktual dan bagi orang-orang non muslim untuk mengajak bergabung sebagai orang yang mengajar kepada ketuhana yang benar. 

E. Bersifat Anamesis (Mengembalikan Fitrah Manusia)
 Dakwah berusaha mengembalikan manusia pada sifat aslinya yang fitri (suci) yaitu bersifat manusia sejak lahir yang menjadikan secara berarti menerima kebenaran islam. Firman Allah dalam surat (Ar-Rum : 30).
Artinya :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

 Allah SWT memerintahkan manusia untuk menyeukan ke jalan Allah, dan tidak menyeru manusia terhadap sesuatu yang baru, jarang dan tidak diketahui. Islam adalah Dinulfitrah agama yang sesuai dengan hukum alam yang ada dalam diri manusia. Ini adalah bawaan yang merupakan unsur pokok bagi kemanusiaan.

F. Dakwah Tidak Bersifat Dokmatis
 Dengan melakukan sesuatu memojok-mojok agar manusia itu mau melakukan apa yang disampaikan da’i, maka tidak pernah didasarkan atas kewenangan seseorang atau suatu tradisi, karena dakwah merupakan suatu alat yang kritis, maka ia harus terhadap bukti-bukti dan realitas yang baru. Dalam melakukan dakwah, seorang da’i tidak bertindak sebagai duta besar dari satu sistem, tetapi sebagai dari pemikir yang bekerja sama dengan mereka yang mendengarkan dakwah (mad’u) dalam pengertian dan apresiasi wahyu Ilahi, ini merupakan suatu titik tolak dalam dakwah.
G. Dakwah Persuasif, Edukatif, dan Bertahap-tahap 
 Persuasif adalah seorang penda’i harus menjalankan dengan tidak ada paksaan, tetapi dengan pelan-pelan secara pendidikan. Sedangkan edukatif seorang penda’i dalam menyampaikan dakwahnya berupa arahan yang berkenaan dengan pendidikan masyakarat.

H. Dakwah Menyebarkan Kedamaian, Rahmat dan Kasih Sayang
 Sebagai citra utama dakwah seorang da’i harus menyebarkan kedamaian rahmat, dan kasih sayang kepada mad’u dan masyarakat pada umumnya. Firman Allah (QS. Anbiya : 107) 
Artinya :
 ”Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

I. Dakwah Bersifat Pembebasan (makhrifah)
 Seseorang yang berhasil membawakan atau mengajak kepada kebenaran, yaitu kepada Agama Islam, sebagaimana firman Allah (QS. Al Baqarah : 122).
Artinya :
 ”Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.

PENUTUP

A. Kesimpulan
 Sifat-sifat dasar dakwah tersebut merupakan sebuah pondasi dasar untuk menjadi seorang penda’i bagi orang-orang muslim yang telah mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi, terutama ilmu keislaman dan juga ilmu umum dan sudah memiliki kemampuan untuk menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat umum.

B. Saran-Saran
1. Seorang Da’i harus memiliki kesabaran dan dapat memahami kelebihan dan kekurangan orang lain, baik itu mad’u atau penda’i lainnya.
2. Seorang da’i harus menerima kritikan dan saran-saran dari mad’u atau penda’i lainnya, agar memperoleh keberhasilan yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. Ali Azis, Moh. M. Ag. Ilmu Dakwah. Kencana, Jakarta : 2004 
Ali Yafie, Dakwah Islam, Risalah, Bandung : 1989
Kursyid Ahmad, Dakwah Islam dan Misi Kristen. Risalah, Bandung : 1984


Tidak ada komentar:

Posting Komentar